Perkembangan Seni Bondres Dikritik

  • admin_bulelengkab
  • 20 Januari 2018
  • Dibaca: 67 Pengunjung

Kesenian bondres adalah kesenian yang menghibur. Untuk mencapai tujuannya menghibur, belakangan ini, seni bondres membuat gaya melucu dengan cara menyajikan karakter dengan wajah yang cacat, ucapan, maupun gerak –geriknya cacat pisik. Hal ini dikritik oleh Prof.Dr.I Wayan Dibia, seniman, sekaligus gurus besar Isu dan juga ketua Kurator PKB ke-40 tahun 2018 dalam kesempatan mensosialisasikan tema PKB,” Teja Dharmaning Koripan atau Api Sprit Peniptaan”, di Gedung Sasana Budaya,19/1.

Kesenian bondres, jelas Dibia, tidak hanya ditonton  oleh masyarakat Bali, juga masyarakat luar dan mungkin juga mancanegara. Masalah cacat seseorang sangat sensitif bagi kemanusiaan. Karenanya jangan sampai, kesenian bondres itu dipakai untuk mencap bahwa kita adalah etnis yang gemar mentertawai cacat seseorang.  “ Kami bukan melarang, tetapi mengingatkan jangan sampai pola melucu ini dikembangkan karena ini tidak bagus,” tegasnya. Karenanya dia mengajak untuk meniru pola apa yang dikembangkan seniman bondres dulu, tanpa merusak wajah, tanpa membuat karakter cacat, tapi mampu melucu dan menghibur. 

Mengenai tema, pembina lainnya, Prof.Dr. Nyoman Suarka selaku penggagas tema, menjelaskan, api bisa berbentuk pisik tampilannya, bisa juga filosofis. Api jika tidak bisa dikendalikan akan merusak, dan api yang bisa dikendalikan akan bermanfaat untuk kehidupan. Api juga bisa bermakna konflik, yang kemudian diredam sehingga konflik menimbukan perdamaian.

Pembinaan yang dihadiri puluhan sanggar yang akan menjadi duta Buleleng di PKB ke-40 yang akan digelar bulan Juni-Juli 2018, menghadirkan sejumlah pembina dan kurator PKB, selain Wayan Dibia dan Suarka, juga Kodi, Dr. Komang Astita Ketua Harian Listibya Bali dan Drs. I Wayan Madra Aryasa,MA  budayawan yang turut membidani lahirnya PKB,serta Dr.Ketut Kodi budayawan yang mumpuni dibidang seni pedalangan dan topeng. Sebagai moderator dibawakan oleh Kabid Kesenian Disbu Bali, Ni Wayan Sulastriani, dan dibuka oleh Kadis Kebudayaan Buleleng Putu Tastra Wijaya.(st) 

 


Share Post :