Gejala dan Cara Pengendalian Penyakit Layu Fusarium Pada Tanaman Pisang

  • Dinas Pertanian
  • 09 April 2019

 

 1. Penyakit Layu Fusarium

Penyakit layu fusarium atau sering disebut penyakit panama pada tanaman pisang disebabkan oleh Fusarium Oxysporum f. Sp Cubense (FOC). Penyakit ini merupakan penyakit paling berbahaya yang menyerang tanaman pisang. Penyakit ini dapat menyebabkan kerugian lebih dari 35 %.

Penyakit ini menular melalui tanah, menyerang akar dan masuk kedalam bonggol pisang. Didalam bonggol ini jamur merusak pembuluh sehingga menyebabkan tanaman layu dan akhirnya mati. Cendawan masuk melalui luka pada akar, kemudian berkembang merusak jaringan pembuluh kayu (xylem). Benang –benang cendawan (miselium) terutama terdapat dalam sel, khususnya terdapat dalam jaringan pembuluh kayu. Akibat kerusakan dan adanya miselium dalam jaringan tersebut sehingga transportasi makanan dan air terganggu, sehingga tanaman menjadi layu dan mati.

            F.oxysporum memiliki dua jenis konidium (spora) yaitu: makrokonidium yang berbentuk sabit,bertangkai kecil, dan kebanyakan bersel 4, berwarna hialin, dan berukuran sekitar 22-36 x 4-5 um serta mikronidium yang berbentuk jorong atau agak memanjang, bersel 1-2, hialin dan berukuran 5-7 x 25-3 um. Cendawan dapat bertahan lama didalam tanah sebagai klamidospora, yang banyak terdapat dalam akar yang sakit. Klamidospora terbentuk ditengah hifa (benang), sering kali berpasangan bersel satu, berbentuk jorong atau bulat dan berukuran 7-14 x 7-8 um.

  1. Gejala Penyakit Layu Fusarium
  2. Menguningnya daun pisang dari mulai daun yang tua, menguning mulai dari pinggiran daun
  3. Pecah batang, perubahan warna pada saluran pembuluh
  4. Ruas daun memendek
  5. Perubahan warna pada bonggol pisang
  6. Biasanya batang yang terserang mengeluarkan bau busuk

Penyakit bisa menular sangat cepat jika penyebaran cendawan ini melalui air. Penyakit ini tak akan bisa diobati, yang bisa dilakukan adalah mencegahnya dengan cara-cara sebagai berikut:

  1. Buang dan bakar tanaman pisang yang sudah terlanjur terserang penyaki ini.
  2. Menanam lebih dari satu varietas atau menanan bibit yang sehat
  3. Jangan memasukkan bibit, bonggol dan tanah dari daerah yang sudah terkontaminasi.
  4. Gunakan bibit yang bebas penyakit (hasil kultur jaringan)
  5. Bersihkan gulma di sekitar areal pertanaman
  6. Tanam jenis pisang yang tahan terhadap penyakit FOC (ketan, tanduk, raja kinalun dan muli)
  7. Menggunakan agensia hayati seperti Trichoderma sp dan Gliocadium sp dan Pseudomonas Fluorescens

Upaya pengendalian penyakit layu sudah banyak dilakukan termasuk pemakaian bahan kimia yang ternyata menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan, untuk mengatasi masalah tersebut maka pengendali hayati menjadi sangat penting seperti penggunaan bakteri antagonis yang hidup di daerah perakaran, mempunyai prospek yang dapat berfungsi untuk menekan penyakit dan dapat mendorong pertumbuhan tanaman. Alternatif lain untuk  mengendalikan penyakit layu fusarium  adalah dengan memanfaatkan mikroba agen pengendali hayati. Pengendalian dengan cara ini dilaporkan cukup efektif dan belum ada yang melaporkan timbulnya ketahanan jamur patogen terhadap agen pengendali hayati (Freeman et al., 2002).

 

Pemanfaatan mikroorganisme antagonis yang ada dalam tanah mempunyai peluang yang cukup baik karena secara alamiah terdapat dalam tanah dan aktifitasnya dapat dirangsang dengan modifikasi lingkungan, biayanya relatif lebih murah untuk jangka panjang, aman bagi lingkungan biotik (tidak terakumulasi dalam rantai makanan) dan dapat digunakan bersama-sama dengan cara pengendalian yang telah ada. Pemanfaatan  jamur  antagonis merupakan salah satu alternatif untuk mengendalikan penyakit layu.

Penggunaan agens hayati kini mulai dikembangkan guna mengurangi penggunaan fungisida sintetik dalam mengendalikan patogen yang memiliki banyak kelemahan. Potensi utama dari Trichoderma spp. adalah sebagai agens pengendali hayati jamur patogen pada tanaman. Jamur ini secara alami merupakan parasit yang menyerang banyak jenis jamur penyebab penyakit tanaman (spektrum pengendalian luas). Jamur Trichoderma spp. dapat menjadi hiperparasit pada beberapa jenis jamur penyebab penyakit tanaman, pertumbuhannya sangat cepat dan tidak menjadi penyakit untuk tanaman tingkat tinggi (Purwantisari dan Hastuti, 2009).

Menurut Sinaga (1986) dalam  Djaya et al. (2003) bahwa jamur Trichoderma spp. dapat menghambat  pertumbuhan  jamur  F. oxysporum, Phytium aphanidermatum, Rhizoctonia solani dan Sclerotium rolfsii. Trichoderma spp. adalah salah satu jamur antagonis yang dapat menekan atau menghambat perkembangan patogen tanaman. Mekanisme agens antagonis jamur termasuk Trichoderma spp. terhadap patogen adalah kompetisi, induksi ketahanan tanaman, mikoparasit, antibiosis, disebabkan karena memiliki beberapa kelebihan seperti kompetisi, antibiosis atau parasitik langsung dan mikoparasitik (Driesche dan Bellows, 1996).

Beberapa mikroba antagonis jamur seperti Trichoderma hamatum, Trichoderma viride, Trichoderma koningi, Gliocladium virens, Gliocladium roseum, Penicillium Janthinellum, Epicocum purpureum, Pythium nunn. Sedangkan bakteri antagonis seperti Bacillus subtilis, Bacillus polymixa, Pseudomonas fluorescens. Pseudomonas cepacia, Agrobacterium radiobacter dan Streptomyces spp. (aktinomiset) adalah agensia pengendali penyakit tanaman yang sudah sering digunakan dalam pengendalian hayati (Aryantha, 2001).

  1. Cara Pengendalian Penyakit Layu Fusarium

Kultur teknis

  • Penggunaan galur /varietas yang tahan (belum diketahui ada varietas yang tahan terhadap strain F.oxysporum di Indonesia).
  • Penggunaan benih sehat (dari kultur jaringan atau anakan tanaman sehat).
  • Pengunaan pupuk kompos yang matang yang disertai perlkuan agens anatgonis pada saat menjelang tanam.
  • Pemeliharaan yang baik yang mencegah pelukaan terhadap akar tanaman.
  • Pengiliran tanman yang tidak satu famili atau menjadi inang pathogen.
  • Sanitasi gulma dan perbaikan drainase kebun.

Mekanis

  • Pembongkaran/eradikasi tanaman sakit (dapat dibantu dengan injeksi herbisida setelah daun-daun tanaman dipotong).

Biologis

  • Modifikasi lingkungan untuk mengaktifkan agens antagonis yang ada dalam tanah, misalnya dengan pengunaan pupuk organic.
  • Aplikasi agens antagonis (misalnya gliocladium , Trichoderma spp., dan Pseudomonas fluorescens)

Kimiawi

  • Alat-alt yang digunakan untuk memotong tanaman sakit bersihkan/didesinfektan dengan formalin 5% atau dicuci bersih dengan sabun dan dikeringkan dibawah sinar matahari.
  • Benih/bibit pisang dicelupkan kedalam larutan desinfektan, misalnya larutan formalin 1% sebelum ditanam.

Karantina

  • Larangan membawa media atau bahan tanaman sakit dari daerah serangan ke daerah lain yang masih bebas penyakit.
  • Pengawasan benih antar daerah atau wilayah.

Sumber  :

Share Post :