BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Kabupaten Buleleng terletak di belahan utara Pulau Bali memanjang dari barat ke timur dan mempunyai panjang pantai 157,05 Km. Secara geografis terletak pada posisi 80 03’ 40” – 80 23’ 00” Lintang Selatan dan 1140 25’ 55” – 1150 27’ 28” Bujur Timur.
Secara keseluruhan luas wilayah Kabupaten Buleleng 136.588 Ha atau 24,25 % dari luas wilayah Propinsi Bali. Apabila dilihat dari luas wilayah masing-masing kecamatan, Kecamatan Gerokgak merupakan wilayah terluas 26,10 % dari luas wilayah kabupaten, kemudian daerah Kecamatan Busungbiu 14,40 %, Sukasada 12,66 %, Banjar 12,64 %, Kubutambahan 8,66 %, Seririt 8,18 %, Tejakula 7,15 %, Sawan 6,77 % dan Buleleng 3,44 %.
Sebagian besar wilayah Kabupaten Buleleng merupakan daerah berbukit yang membentang di bagian selatan, sedangkan di bagian utara yakni sepanjang pantai merupakan dataran rendah dengan panjang pantai 157,05 km. Ada 56 sungai besar dan kecil dimana sebagian besar diantaranya merupakan sungai tadah hujan. Juga di Kabupaten Buleleng terdapat dua danau yaitu Danau Tamblingan di Kecamatan Banjar dengan luas 110 hektar dan Danau Buyan di Kecamatan Sukasada dengan luas 360 Hektar.
Potensi Perikanan dan Kelautan Kabupaten Buleleng cukup tinggi untuk dikelola/diusahakan. Namun upaya-upaya pemanfaatannya belum sepenuhnya bagi masyarakat, pemerintah dan khususnya investor yang belum terikat banyak, karena kurang tersedia informasi/data yang akurat yang dipakai acuan untuk memproyeksikan bahwa itu layak secara ekonomi, untuk itu dipandang perlu untuk penyusunan peta dan peluang investasi perikanan dan kelautan Kabupaten Buleleng.
1.2. MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud penyusunan profil dan peluang usaha ini adalah sebagai berikut :
a. Memberikan gambaran yang rinci dan akurat kepada masyarakat, dunia usaha (calon investasi) mengenai potensi perikanan dan kelautan Kabupaten Buleleng.
b. Menambah informasi tentang potensi usaha di bidang perikanan dan kelautan.
Tujuan adalah sebagai berikut :
Menarik minat investor untuk menanamkan modalnya di bidang Perikanan dan Kelautan di Kabupaten Buleleng dan guna meningkatkan peran serta sektor swasta dalam pembangunan Kabupaten Buleleng
1.3. KEBIJAKSANAAN PEMBANGUNAN DAN PERIKANAN
Dalam mewujudkan pembangunan Kabupaten Buleleng yang terpadu baik secara regional maupun sektoral maka perlu adanya pengembangan serta penanganan yang memerlukan dukungan penataan ruang (waktu) secara terencana.
Kawasan-kawasan pengembangan ditetapkan berdasarkan pertimbangan spesifik dengan karakteristik Kabupaten Buleleng.
a. Kawasan Buleleng Barat
Kawasan Buleleng barat yang meliputi Kecamatan Seririt, Gerokgak, dan Busungbiu. Di Kecamatan Seririt dan Gerokgak terdapat potensi untuk kegiatan budidaya ikan dengan keramba, budidaya tambak, mina padi, rumput laut, pembenihan ikan bandeng dan penangkapan ikan. Sedangkan untuk Kecamatan Busungbiu adalah budidaya mina padi dan kolam ikan.
b. Kawasan Buleleng Tengah
Kawasan Buleleng Tengah meliputi Kecamatan Buleleng, Sukasada, dan Banjar. Kecamatan Banjar. Kecamatan Buleleng dan Banjar dikembangkan budidaya mina padi, hatchery, penangkapan ikan dan ikan hias, Kecamatan Sukasada dikembangkan mina padi, kolam pemancingan dan budidaya ikan konsumsi di danau.
c. Kawasan Buleleng Timur
Kawasan Buleleng Timur meliputi wilayah Kecamatan Sawan, Kecamatan Kubutambahan dan Kecamatan Tejakula. Kecamatan Sawan dikembangkan
budidaya tambak udang, Kecamatan Kubutambahan dan Tejakula dikembangkan rumput laut dan penangkapan ikan hias laut ramah lingkungan dan pengembangan intensifikasi penangkapan ikan konsumsi di laut dan industri penangkapan.
Program Dinas Perikanan dan Kelautan kabupaten Buleleng secara teknis mempunyai beberapa program yaitu :
- Program Pemberdayaaan Ekonomi Masyarakat Pesisir
- Program Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan
- Program Peningkatan Kegiatan Budidaya Kelautan dan Kawasan Maritim kepada Masyarakat
- Program Pengembangan Budidaya Perikanan
- Program Pengembangan Perikanan Tangkap
- Program Pengembangan Sistem Penyuluhan Perikanan
- Prograam Optimalisasi Pengelolan dan Pemasaran Produksi Perikanan
- Program Pengembangan Sumberdaya Perikanan kegiatan PNPM Mandiri Kelautan dan Perikanan
- Program Pengembangan dan Pengelolaan Sumberdaya Laut, Kegiatan Mitigasi Bencana Lingkungan Laut dan Pesisir
Visi
“Terwujudnya Pengelolaan Sumber Daya Perikanan dan Kelautan yang Lestari, Terpadu dan Bertanggungjawab Bagi Kesatuan Bangsa dan Kesejahteraan Masyarakat”
Misi
· Peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan, pembudidaya ikan dan masyarakat pesisir lainnya.
· Peningkatan peran sektor Perikanan dan Kelautan sebagai sumber petumbuhan ekonomi daerah.
· Pemeliharaan dan peningkatan daya dukung serta kualitas lingkungan perairan.
· Peningkatan kecerdasan dan kesehatan masyarakat melalui peningkatan konsumsi ikan.
· Peningkatan peran laut sebagai pemersatu bangsa dan peningkatan budaya bahari.
BAB II
PROFIL INVESTASI PERIKANAN DAN KELAUTAN
KABUPATEN BULELENG
Di kabupaten Buleleng dengan panjang pantai 157, 05 Km dan luas darat 136.588 Ha sampai dengan tahun 2008 total investasi yang ada adalah sebesar Rp. 818.019.330.000 (delapan ratus delapan belas milyar sembilan belas juta tiga ratus tiga puluh ribu rupiah) yang terdiri dari investasi di bidang penangkapan sebesar Rp 69.919.330.000 (enam puluh sembilan milyar sembilan ratus sembilan belas juta tiga ratus tiga puluh ribu rupiah), investasi di bidang budidaya sebesar Rp. 740.600.000.000 (tujuh ratus empat puluh milyar enam ratus juta rupiah), investasi di bidang pengolahan / pasca panen kurang lebih Rp. 4.000.000.000 (empat milyar rupiah) dan investasi di bidang wisata bahari dan terumbu karang sebesar Rp. 3.500.000.000 (tiga milyar lima ratus juta rupiah)
2.1. USAHA PENANGKAPAN
Kabupaten Buleleng mempunyai panjang pantai 157,05 km, dengan luas laut 3.196.8 km² dengan perkiraan produksi lestari 12.538 ton/tahun pemanfaatan potensi masih didominasi oleh perikanan rakyat dengan memanfaatkan sumber perikanan pantai, lepas pantai dan laut bebas. Dari hasil tangkapan ikan di laut tahun 2008 data produksi ikan sebanyak 11.173,9 ton atau baru dimanfaatkan sebesar 85,08% dari potensi lestari. Jenis-jenis ikan yang ditangkap dan menjadi komoditi andalan daerah Buleleng antara lain Lemuru 1.093,9. ton ( 10,9 %), Cakalang ton 1.846,3 (15,22%), Ikan Tongkol 1.855,1 ton (15,68%), Teri 467,9 (5,76%), Ikan Lemadang 272,1 (2,62%), ekor Layang 867,5 (9,30%), Ikan Terbang 1.162,5,9 (8,99%), Ikan Tuna 1.052,8 (9,84%) dan ikan-ikan demersal yang masih sedikit pengelolaannya. Adapun peluang usaha yang masih terbuka dapat dieksploitasi lagi sebesar 1.838,4 ton (14,66 %).
Jumlah nelayan tahun 2008 sebanyak 6.721 orang dengan armada tangkap antara lain perahu motor 44 buah jukung bermotor 2.084 buah dan jukung 1.270 buah, serta alat tangkap yang dioperasikan berupa gillnet 2.861 unit, pancing ulur 3.716 unit, pancing tonda 1.821 unit, purse seine 94 unit, bagan 49 unit, bubu 336 unit.
Jumlah Investasi di bidang penangkapan sampai tahun 2008 sebesar Rp. 69.919.330.000 (enam puluh sembilan milyar sembilan ratus sembilan belas juta tiga ratus tiga puluh ribu rupiah) yang terdiri dari pembangunan Pangkalan Pendaratan Ikan sebesar Rp. 8.140.830.000,- (delapan milyar seratus empat puluh juta delapan ratus tiga puluh ribu rupiah) dan sisanya sebesar Rp. 61.778.500.000 (enam puluh satu milyar tujuh ratus tujuh puluh delapan juta lima ratus ribu rupiah) adalah untuk pengembangan sarana, prasarana dan produksi perikanan tangkap yang digunakan oleh nelayan dan para swasta yang bergerak di sektor perikanan dan kelautan.
Jenis-jenis ikan yang dominan terdapat diperairan kabupaten Buleleng antara lain :
a. Cakalang
Ikan Cakalang merupakan jenis ikan pelagis ekonomi penting ditangkap dengan alat purseine, tonda, rawai, gillnet, dan lain-lain dengan alat bantu penangkapan berupa rumpon. Produksi ikan cakalang pada tahun 2008 sebesar 1.846,3 ton, pemanfaatan produksi cakalang utamanya konsumsi segar dan diolah menjadi pindang. Daerah penangkapan terdapat disepanjang pantai Buleleng debgan musim penangkapan hampir sepanjang tahun dengan musim puncak pada bulan November dan Desember
a. Tongkol
Ikan tongkol merupakan ikan pelagis ekonomi penting, di Kabupaten Buleleng terdapat disepanjang pantai dengan musim tangkap hampir sepanjang tahun dengan musim puncak pada bulan April sampai dengan bulan Juni alat tangkap yang biasa digunakan oleh nelayan adalah pancing tonda produksi tahun 2008 mencapai 1.855,1 ton.
b. Ikan Terbang
Ikan terbang termasuk ikan pelagis terbesar disepanjang pantai Buleleng dengan musim penangkapan, puncak pada bulan Oktober-Desember dengan menggunakan alat tangka gillnet (jaring walang) orodan. Produksi tahun 2008 adalah 1.162,5 ton.
c. Ikan Lemuru
Ikan lemuru termasuk ikan pelagis tersebar di sepanjang pantai Kabupaten Buleleng utamanya di sekitar selat Bali dengan musim penangkapan sekitar bulan Oktober-April dengan alat utama tangkapan ikan lemuru adalah purse seine (mini), orodan. Produksi tahun 2008 adalah 1.093,9 ton.
d. Ikan Layang
Ikan layang termasuk ikan pelagis yang tersebar di sepanjang pantai Buleleng dengan musim penangkapan pada bulan April-Juni dengan menggunakan alat tangkap purse seine, gillnet (kober), maupun beach seine (orodan). Produksi tahun 2008 adalah sebesar 867,5 ton.
e. Ikan Ekor Kuning
Ikan ekor kuning termasuk ikan demersal tersebar disepanjang pantai Buleleng dengan musim tangkapan pada bulan April-Oktober dengan menggunakan alat tangkap pukat pantai dan produksi tahun 2008 adalah 17,8 ton.
2.2. USAHA BUDIDAYA TAMBAK
Komoditas utama usaha budidaya tambak adalah udang windu, udang putih, dan Udang Panamea. Potensi tambak di Kabupaten Buleleng seluas 500 Ha, tersebar di 4 Kecamatan dengan Kecamatan terluas Gerokgak 445 Ha, Seririt 19 Ha, Kubu Tambahan 10 Ha, Tejakula 26 Ha. Usaha budidaya tambak umunya telah menggunakan teknologi maju (10 pengusaha) lahan yang telah dibuka seluas 278 Ha dan relisasi penebaran seluas 155,3 Ha tahun 2008 dengan pencapaian produksi 949,5 ton. Peluang dibidang budidaya tambak masih cukup tersedia antara lain dengan pemanfaatan yang telah dibuka (406,3 Ha). Budidaya tambak ini mempunyai prospek yang cukup baik, terutama sebagai pemasok udang sebagian besar untuk eksport dan penting dalam penyediaan umpan hidup bagi penangkapan ikan tuna bandeng yang berukuran 15-20 cm.
2.3. USAHA BUDIDAYA LAUT
Potensi pengembangan budidaya laut Kabupaten Buleleng cukup besar diperkirakan sekitar 1000 Ha tersebar di seluruh pantai Buleleng, namun pemanfaatannya masih kecil sekali dan baru dimanfaatkan di beberapa daerah saja. Dari potensi yang ada dapat diperuntukkan semua komoditas laut yang ada, kecuali budidaya mutiara dan rumput laut memerlukan kelimpahan plankton dalam perairan antara lain potensi untuk budidaya kerapu 500 Ha, Mutiara 250 Ha, Rumput laut 250 Ha. Daerah yang baru memanfaatkan adalah di Gerokgak, Seririt, Tejakula dan Kubutambahan. Komoditas utama usaha budidaya laut adalah Rumput laut, Kerapu, Bandeng dan Mutiara. Sekala Usaha Budidaya masih sederhana teratama budidaya Rumput laut dengan jenis utamanya adalah Euchema Cottonii dengan menggunakan metode terapan longline.Usaha budidaya kerapu dan Bandeng merupakan usaha padat modal umumnya menggunakan metode keramba jaring apung, sedangkan mutiara menggunakan metode long line.
Untuk budidya kerapu dari potensi 500 Ha telah dimanfaatkan baru 52.34 Ha sehingga peluang usaha masih terbuka seluas 447,66 Ha. Sedangkan untuk budidaya Mutiara dari potensi 250 Ha, yang telah dimanfaatkan baru 183 Ha, sehingga masih terbuka peluang usaha lagi 67 Ha. Demikian pula budidaya Rumput laut dari potensi 500 Ha, baru dimanfaatkan seluas 252,3 Ha, sehingga peluang usaha masih terbuka lagi 247,7 Ha.
2.4. BUDIDAYA AIR TAWAR
Kegiatan air tawar yang sudah berkembang dan cukup memberikan andil dalam pemenuhan kebutuhan akan protein masyarakat adalah dari jenis karper dan udang Galah, sedangkan beberapa jenis ikan air tawar juga ada namun belum banyak produksinya seperti lele maupun nila.
Ikan Karper
Kegiatan budidaya ikan karper di Buleleng adalah dilakukan pada berbagai cara dan yang paling banyak adalah usaha tumpang sari mina padi, kemudian kegiatan pembesaran di Keramba Jaring Apung (KJA) maupun kolam-kolam penduduk. Potensi usaha mina padi tercatat seluas 3.354,6 Ha pada sawah berpengairan teknis maupun setengah teknis namun pemanfaatannya baru mencapai 198 ha, sehingga pengembangan usaha ini masih sangat memungkinkan. Bididaya karper di keramba (KJA) memanfaatkan kelompok perairan namun yang ada seperti danau, sungai, saluran irigasi, waduk dan lain-lain. Potensi perairan umum Buleleng seluas 481.3 ha pemanfaatannya masih terlalu kecil akibat kendala biaya pakan yang cukup mahal.
Udang Galah
Usaha budidaya udang galah tergolong baru diperkenalkan sejak kurang lebih pada tahun 1985, kegiatan ini cepat sekali berkembang. Perkembangan ini sejalan dengan menurunnya produksi udang di tambak (udang windu). Upaya pengembangan kegiatan budidaya udang galah memanfaatkan potensi kolam air tenang dan kolam tradisional yang ada. Dari potensi kolam yang ada seluas 27,32 ha baru dimanfaatkan seluas 11,6 ha dengan produksi tahun 2007 sebesar 3,2 ton yang tersebar pada Kecamatan Banjar, Busungbiu, Seririt, Buleleng Sawah dan Kubutambahan. Usaha ini cukup memberikan harapan untuk dikembangkan karena konsumsi lokal (termasuk tamu-tamu asing).
Komoditas budidaya air tawar lainnya yang juga mempunyai peluang untuk dikembangkan di Kabupaten Buleleng antara lain adalah nila, lele dan lain-lain.
Ikan Hias
Jenis-jenis Ikan Hias yang sudah berkembang di Kabupaten Buleleng adalah jenis Comet, Cupang, PLatisilfer, Platicoral, Balack Molly, Guffi dan lain-lain daerah pengembangannya baru pada Kecamatan Sukasada, Banjar, Busungbiu, dan Seririt. Jumlah petani masih sedikit dengan produksi yang dihasilkan sudah cukup baik, dan baru dipasarkan secara lokal saja. Dengan usaha pengembangan masih terbuka baik dari jenis-jenis ikan hias, maupun pasar. Produksi penangkapan ikan hias laut sebesar 598.832 ekor.
2.5. USAHA PEMBENIHAN
Kegiatan Pembenihan ikan di Kabupaten Buleleng cukup berkembang adapun kegiatan-kegiatan pembenihan yang ada adalah sebagai berikut :
a. Pembenihan bandeng dan kerapu
Pembenihan Bandeng dan kerapu di lingkungan Kecamatan Gerokgak dengan jumlah Hatchery Lengkap (HL) sebanyak 52 unit dan jumlah Bak Induk sebanyak 152 bak dan jumlah Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT) sebanyak 1.800 unit, jumlah bak larva hatchery lengkap dan hatchery skala rumah tangga sebanyak 4005 bak. Bak larva Produksi nener tahun 2008 sebesar 1.985.125.000 dan produksi bcnih kerapu sebesar 326 ribu ekor.
b. Pembenihan Udang Paname
Potensi pembenihan udang paname sebesar 130 Ha, namun pada tahun 2008 baru dimanfaatkan seluas 74,3 Ha (57,15 %). Peluang investasi untuk tahun 2009 sebesar 55,7 Ha (42,8 %). Pengusaha udang paname kebanyakan tersebar di wilayah Kecamatan Gerokgak.
c. Pembenihan Udang Galah
Potensi produksi udang galah 10 unit tetapi baru ada 1 buah BBI Udang Galah yang sifatnya masih uji coba yang terletak di BBI Ringdikit Desa Ringdikit, Kecamatan Busungbiu.
d. Pembenihan Ikan Hias
Potensi pengembangan ikan hias 27, 32 Ha, dan baru dimanfaatkan 5 Ha (5,5%) dengan produksi sebanyak 167.925 ekor. Wilayah produksi untuk pembenihan ikan hias air tawar adalah Kecamatan Seririt, Sukasada, dan Busungbiu.
e. BBI / UPR (Unit Pembenihan Rakyat)
Dinas Kelautan dan Perikanan mempunyai 1 unit Pembenihan Ikan Air Tawar yang berada di Desa Ringdikit dengan luas 0,83 Ha dengan potensi tahun 2008 sebesar 1.200.000 ekor. Sedangkan jumlah UPR sebanyak 6 unit dengan produksi sebanyak 591.500 ekor.
Total investasi budidaya baik budidaya air tawar maupun budidaya air laut sampai tahun 2008 adalah sebesar Rp 740.600.000.000 (tujuh ratus empat puluh milyar enam ratus juta rupiah) yang terdiri dari investasi budidaya mutiara yang terdiri dari 17 perusahaan sebesar Rp 59.500.000.000 (lima puluh sembilan milyar lima ratus juta rupiah), Hatchery Bandeng terdiri dari 52 hatchery lengkap dan Hatchery Skala Rumah Tangga yang terdiri dari 1800 unit yang total investasinya sebesar Rp 582.000.000.000 (lima ratus delapan puluh dua milyar rupiah), keramba jaring apung untuk kerapu dan ikan lainnya sejumlah 12 perusahaan dan 4 kelompok pembudidaya kerapu dengan total investasi sebesar Rp 12.000.000.000 (dua belas milyar rupiah), rumput laut dengan total investasi sebesar Rp 3.600.000.000 (tiga milyar enam ratus juta rupiah), tambak udang sejumlah 11 perusahaan dengan total investasi sebesar Rp 77.000.000.000 (tujuh puluh tujuh milyar rupiah) dan investasi di balai pembenihan ikan sebesar Rp 3.500.000.000 (tiga milyar lima ratus juta rupiah) serta investasi kolam rakyat / UPR untuk budidaya air tawar sebesar Rp. 3.000.000.000 (tiga milyar rupiah).
2.6. USAHA PENGOLAHAN
Dari hasil produksi hasil perikanan pada umumnya dipasarkan dalam keadaan segar sedangkan sebaliknya terlebih dahulu diolah untuk diverifikasi usaha penambahan nilai, disamping pertumbuhan transportasi dan distribusi. Komposisi pengolahan hasil perikanan antara lain : pengasinan, pindang asap, abon, krupuk dan beberapa pengolahan sudang lepet dan bakso. Usaha pengolahan hasil-hasil perikanan masih dilakukan dengan skala usaha kecil bermukim dan tersebar di sepanjang Pantai Buleleng, bahkan usaha-usaha pengolahan siap saji juga berkembang seperti ikan bakar/panggang, sate dan lain-lain. Adapun sentra pengolahan ikan di Kabupaten Buleleng terletak di Desa Pengastulan, Sangsit, Pacung, dan Bondalem. Total Produksi ikan Pindang tahun 2008 sebesar 1.810,9 ton, pemasaran masih di Kabupaten Buleleng, Bangli, dan Denpasar.
Total investasi di bidang usaha pengolahan / pasca sektor perikanan dan kelautan sampai tahun 2008 adalah kurang lebih Rp 4..000.000.000 (empat milyar rupiah) yang terdiri dari pembuatan bangsal pengolahan ikan di Pacung, Bondalem di Kecamatan Tejakula dan di Pengastulan, Kecamatan Seririt, Pasar Benih Ikan Sanggalangit Kecamatan Gerokgak serta Pasar Ikan Tradisional yang ada di Desa Anturan dan Pasar Ikan Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan serta pengadaan sarana dan prasarana pengolahan hasil-hasil perikanan.
2.7. WISATA BAHARI DAN TERUMBU KARANG
Di Kabupaten Buleleng untuk Wisata Bahari terletak pada tiga lokasi yaitu di Kecamatan Gerokgak khususnya di Pulau Menjangan dan kawasan Batuampar dengan menggunakan kapal motor dengan Tonase 40 GT yang jumlahnya 35 buah, di Kecamatan Buleleng khususnya di kawasan Lovina dan di Kecamatan Tejakula khususnya di Desa Sambirenteng Dusun Geretek, Desa Les, Desa Penuktukan dan pantai Desa Bondalem serta pantai Desa Kerobokan di Kecamatan Sawan menggunakan perahu tradisional.
Adapun kegiatan Wisata Bahari adalah Snorkling, Diving dan Dolping. Para wisatawan mancanegara dan wisatawan lokal tertarik akan keindahan panorama terumbu karang
dan keragaman biota hayati. Untuk dikawasan Lovina terdapat atraksi ikan lumba-lumba alam (Dolping) yang dapat dinikmati pada pukul 5 sampai 7 pagi.
Dilihat dari perkembangan wisata di Kabupaten Buleleng menunjukkan peningkatan yang signifikan. Selain kegiatan snorkling dan diving , Dinas Perikanan dan Kelautan juga mengembangkan lomba perahu layar yang dilaksanakan pada bulan Agustus setiap tahunnya untuk menarik wisatawan.
Disamping obyek-obyek wisata tersebut diatas Dinas Perikanan dan Kelautan mengembangkan dan melakukan konservasi terumbu karang di lokasi laut yang telah memiliki areal asal mula terumbu karang yang sudah berkembang dengan melakukan rehabilitasi terumbu karang melalui transplantasi karang yaitu di lokasi Desa Les sebanyak 25 unit, Sambirenteng sebanyak 25 unit, pantai desa Bondalem sebanyak 30 unit, pantai desa Tembok sebanyak 20 unit serta pantai desa Penuktukan melakukan rehabilitasi terumbu karang dengan konsep 10 roti buaya dan 6 hexadome, di Kecamatan Tejakula. Lokasi Tamansari, Lovina, dan pantai desa Kalibukbuk melakukan transplantasi karang sebanyak 30 unit, di Kecamatan Buleleng. Tegallenga dan pantai desa Pengulon melakukan rehabilitasi terumbu karang sebanyak 1 unit, di Kecamatn Seririt. Desa Pemuteran melakukan rehabilitasi terumbu karang dengan model biorock, pantai desa Sumberkima melakukan rehabilitasi terumbu karang sebanyak 40 unit, desa Pejarakan melakukan transplantasi karang sebanyak 40 unit dan terumbu buatan sebanyak 32 unit, di Kecamatan Gerokgak.
Total investasi sampai tahun 2008 adalah sebesar Rp. 3.500.000.000 (tiga milyar lima ratus juta rupiah) yang terdiri dari pembuatan sarana pengawasan (bangunan / balai kelompok pengawasan), sarana dan prasarana jukung dan mesinnya serta pembuatan / transplantasi terumbu karang dan pelatihan serta pengawasan.
Pengawasan terumbu karang dan biota lainnya dilakukan dengan 2 pengawasan yaitu :
1. Pengawasan oleh masyarakat disebut POKMASWAS yang terdiri dari :
a. Wana Segara Lestari Desa Sumberklampok Kec. Gerokgak
b. Citra Samudra Kec. Gerokgak
c. Pecalang Segara Desa Pemuteran Kec. Gerokgak
d. Benteng Bahari Kec. Banjar
e. Pecalang Segara Kawasan Lovina
f. Kartika Ksirarnawa Kecamatan Tejakula
2. Pengawasan oleh Satgas Kabupaten
Satuan Tugas Pengawas Sumberdaya Perairan / Laut Kabupaten Buleleng yang beranggotakan unsur Kodim 1609, Polres Buleleng, Polairud, PPNS, Bagian Hukum Setda, Kejaksaan dan unsur Dinas Perikanan dan Kelautan.
Prinsip-prinsp dasar dalam pengelolaan wilayah pesisir yang dianut antara lain :
a. Keterpaduan
Keterpaduan Perencanaan Sektor Secara Horisontal, Keterpaduan Perencanaan Secara Vertikal, Keterpaduan Ekosistem Darat dengan Laut, Keterpaduan Sains dengan Manajemen
b. Desentralisasi pengelolaan
Dalam proses pengelolaan wilayah pesisir tidak terfokus pada pemerintah pusat di kabupaten tapi juga melibatkan pemerintah dari tingkat desa
c. Pembangunan berkelanjutan
Tujuan utama dari pengelolaan pesisir terpadu adalah untuk memanfaatkan sumberdaya pesisir dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat dan pelaksanaan pembangunan nasional, dengan tidak mengorbankan kelestarian sumberdaya pesisir di dalam memenuhi kebutuhan baik untuk generasi sekarang maupun bagi generasi yang akan datang
d. Keterbukaan dan peran serta masyarakat, dan
e. Kepastian hukum
Kepastian hukum sangat penting untuk menentukan siapa yang mempunyai akses, hak memiliki, dan memanfaatkan sumberdaya pesisir. Pemilikan dan penguasaan sumberdaya tersebut dilindungi oleh negara dan diakui oleh stakeholder lainnya.
BAB III
FASILITAS PENDUKUNG
Pembangunan kelautan dan perikanan mendapat perhatian besar dari Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng, mengingat tingkat pemanfaatan Sumber Daya yang tersedia masih rendah dan sarana geografis Kabupaten Buleleng berada pada posisi yang strategis baik dari segi usaha penangkapan ikan, budidaya perikanan, industri pengolahan ikan maupun pemasarannya.
3.1. TEKNOLOGI KELAUTAN DAN PERIKANAN
Secara umum teknologi penangkapan ikan dan perikanan budidaya cukup tersedia dan dengan adanya Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut (BBRPBL, Gondol-Bali) di Kabupaten Buleleng, telah sangat mendukung penyediaan teknologi, khususnya bagi perikanan budidaya. Hasil penelitiannya telah mampu diadopsi oleh petani ikan dan pengusaha Hatchery Skala Rumah Tangga (PHSRT) sehingga saat ini telah ada 52 Hatchrey Lengkap (HL) dan 1800 unit backyard yang memproduksi benih ikan bandeng, kerapu, kakap dan tiram mutiara disepanjang Pantai Gerokgak.
3.2. PRASARANA KELAUTAN DAN PERIKANAN
a. Prasarana Pelabuhan
Di Kabupaten Buleleng sejak tahun 2004 dikembangkan PPI Sangsit, Kecamatan Sawan untuk mendukung kegiatan penangkapan sehingga terkonsentrasi di satu tempat. Pendukung prasarana antara lain adalah tersedia Break Water, dermaga, Kantor terpadu, bangsal pengolahan, depo solar, jaringan air bersih, gudang, TPI, bengkel, mercusuar, perlatan bengkel, jaringan jalan, penataan parkir, jaringan drainase, padmasana, MCK dan mushola, jaringan listrik, rumah jaga dan, rumah genset, mesin genset, jaringan listrik
b. Prasarana Pembudidayaan Ikan
Prasarana Pembudidayaan Ikan Kabupaten Buleleng mempunyai satu buah BBI (Balai Benin Ikan), yakni berada di Ringdikit Kecamatan seririt.
c. Prasarana Penanganan dan Pengolahan hasil
Prasarana Penanganan dan Pengolahan hasil merupakan salah satu bagian pentingdalam mata rantai industri perikanan. Adapun prasarana yang sudah ada di Kabupaten Buleleng adalah prasarana penjemuran ikan sebagai berikut : Desa Pemaron pada Kelompok Nelayan Segara Gunung, Temukus pada kelompok Nelayan Bhakti Samudra, desa Pemuteran pada Kelompok Cinta Mina Samudra dan Kubutambahan pada Kelompok Nelayan Putra Samudra Indah, dan kelompok Nelayan Samudra Jaya Desa Pacung (Prasarana Pengolahan Ikan Pindang).
BAB IV
PENGATURAN MEKANISME DAN PROSEDUR
4.1. PENGATURAN
a. Penanaman Modal
1. UU No. 1 Th. 1967 JO Nomor 11 tahun 1970 tentang Penanaman Modal Asing.
2.UU Nomor 6 Th. 1968 JO Nomor 12 tahun 1970 tentang Penanaman Modal dalamNegeri.
3.Surat Keputusan Presiden RI Nomor 117 tahun 1999 tentang Tata Cara Penanaman Modal.
4.Surat Keputusan Presiden RI Nomor 120 Tahun 1999 tentang Badan
Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
5. Surat Keputusan Presiden RI Nomor 122 Tahun 1999 Jo. No. 26 tahun 1980
tentang pembentukan Badan Koordinasi Penanaman Modan Daerah (BKPMD).
6.Surat Keputusan Menteri Negara Investasi/Kepala BKPM Nomor 37/SK/ 1999 tentang Pelimpahan Kewenangan Pemberian persetujuan dan Fasilitas serta perijinan Pelaksanaan Penanaman Modal kepada Gubernur Propinsi.
7. Surat Keputusan Menteri Negara Investasi/Kepala BKPM Nomor 58/SK/ 1999 tentang Pedoman dan Tata Cara Permohonan Penanaman Modal yang didirikan dalam rangka Penanaman Moadal Dalam Negeri dan Penanaman Modal Asing.
b. Usaha Perikanan
Pengaturan mekanisme dan prosedur Usaha Perikanan mengacu kepada prosedur Penanaman Modal dan Prosedur Investasi yang diterapkan Pemda Kabupaten Buleleng. Serta diterbitkannya Perda Kabupaten Buleleng No. 10 tahun 2007 tentang Retribusi Pelayanan Izin Usaha Perikanan dan Kelautan dan Perda No. 11 tahun 1996 tentang Sumbangan Pihak Ketiga.
c. Pengawasan Mutu dan Hasil Perikanan
Adapun Pengawasan Mutu Hasil Perikanan dilaksanakan melalui kerjasama dengan Laboratorium Uji Mutu Hasil Perikanan Dinas Perikanan dan Kelautan Prop. Bali.
Sebelum produk hasil perikanan diekspor ke luar negeri, terlebih dahulu di uji di laboratorium kemudian dikeluarkan Sertifikat Kelayakan Mutu. Sedangkan Pengawasan mutu hasil perikanan yang dilaksanakan di kabupaten Buleleng adalah pengecekan kadar formalin dan secara organoleptik (Visual), karena tidak punya peralatan laboratorium.
d.. Pemasaran
Pemasaran hasil perikanan, sampai saat ini tidak ada permasalahan. Komoditas hasil penangkapan seperti Tuna, Cakalang dan hasil budidaya Tambak Udang, bandeng Kerapu permintaan cukup tinggi baik dari dalam negeri maupun eksport ke luar negeri seperti Jepang, Taiwan, Philipina, Amerika, Singapura, Malaysia dan Cina.
4.2. MEKANISME DAN PROSEDUR PENANAMAN MODAL
a). Insentif
Insentif penanaman modal yang diberikan Pemkab adalah penyederhanaan perijinan dan pelayanan prima serta pembinaan yang intensif.
b). Prosedur Investasi.
1) PMA (Penanaman Modal Asing)
Untuk PMA, Menives/ketua PKPM menyampaikan permohonan kepada Presiden, Manives/ketua menyampaikan persetujuan permohonan tersebut kepada calon penanaman modal, yang berlaku sebagai persetujuan prinsip. Adapun persyaratannya adalah sebagai berikut:
- Rekaman Akte Pendirian Perusahaan
- Uraian proses produksi dengan mencamtumkan bahan baku yang digunakan.
- Uraian kegiatan usaha
- Rancangan kegiatan usaha patungan yang diparaf oleh senua peserta usaha patungan.
- Surat kuasa (bila pemohonan dilakukan oleh orang lain)- Mendapat rekomendasi dari masyarakat adat, masyarakat nelayan dan Kepala Administratif yang ada di lokasi pemohonan (stake holder terkait).
2) PMDN
Calon Penanaman modal mengajukan permohonan dan proposal ke Bupati dan tembusan ke Tim Investigasi di Bagian Ekbang Kab. Buleleng, Kantor Pelayan Terpadu dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Buleleng. Adapun persyaratan penanman modal adalah sebagai berikut :
- Rekaman akte pendirian perusahan, KTP, dan NPWP perorangan
- Uraian kegiatan usaha dan proses produksi dengan mencantumkan analisis finansial, teknis, ekonomi dan sosial.
- Mendapat dukungan dari masyarakat adat, masyarakat nelayan dan Kepala Desa yang ada di lokasi pemohon serta Petugas Perikanan Kecamatan.
BAB V
PENUTUP
Demikian secara rinci gambaran potensi dan peluang usaha di bidang perikanan dan kelautan Kabupaten Buleleng yang disusun berdasarkan data yang ada. Semoga buku penyusun Profil dan Peluang usaha di bidang Perikanan dan Kelautan ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat, pemerintah dan khususnya dunia usaha sehingga dapat menumbuhkan daya tarik tersendiri untuk menanamkan investasinya di Kabupaten Buleleng, disamping itu pemerintah Kabupaten Buleleng berupaya pula untuk memberikan insentif dan jaminan berusaha untuk mewujudkan iklim usaha yang kondusif. Pertumbuhan dan perkembangan investasi di bidang Perikanan dan Kelautan diharapkan dapat memacu lagi pembangunan di Kabupaten Buleleng.